mertua vs menantu

Pernikahan adalah bersatuanya dua manusia dewasa yang berbeda gender, pemikiran, latar belakang, dan lain sebagainya. Persatuan di antara keduanya menjadi suami-istri menjadikan mereka keluarga yang memiliki boundaries, yaitu batasan-batasan yang HARUS mereka urusi sendiri namun tetap berhubungan dengan pihak-pihak eksternal.

Bagaimanapun, masing-masing pria dan wanita yang menikah tersebut merupakan anak dari orang tuanya. Dengan demikian, dalam pernikahan ada hubungan yang disebut mertua-menantu (selain orangtua-anak). Mertua maupun menantu adalah pihak-pihak eksternal yang disebut di paragraf sebelumnya.

Artinya, mertua SEPATUTNYA membatasi intervensi atau pengaruhnya terhadap keluarga menantunya – meski tidak bisa dibantah bahwa pasangan dari menantunya adalah anaknya sendiri. Dan demikian pula, para menantu sadar diri untuk memperhatikan pandangan pasangan terlebih dahulu sebelum melaksanakan saran atau rekomendasi mertua.

Mertua Ikut Campur Urusan Rumah Tangga

Nah, bagaimana menghadapi mertua yang acapkali memberikan saran dan rekomendasi kepada kita, mempengaruhi kita mengambil keputusan, bahkan hingga memunculkan kesan memaksa -padahal kita tidak mau- kita melakukannya?

Merasa sebagai yang Paling Mengenal Anaknya

Terutama ibu, merasa sebagai orangtua yang paling mengenal anaknya. Sehingga ada kecenderungan untuk ‘mengalahkan’ pendapat dari pasangan si anak alias menantu.

Melewati Batas yang Wajar antar Keluarga

Bentuk-bentuk melewati batas ini adalah selalu ingin tahu -padahal keluarga menantu merasa sudah memberikan informasi yang cukup-, memberikan pendapat tanpa diminta, serta menyampaikan nasihat lebih dari yang diminta.

BACA JUGA  Yang Aku (Istri) Mau dari Kamu (Suami)

Wujud melampaui batas yang kurang patut adalah turut mengatur keputusan keluarga anak-menantu yang telah mereka tetapkan sebelumnya.

Bagaimanapun sebaiknya para mertua maupun orangtua jangan ikut campur terkait urusan rumah tangga anak, demikian pesan Ustadz Derry Sulaiman. Selain itu, beliau pun mengingatkan para pasangan suami istri atau pasutri agar tidak menceritakan aib pasangan dan aib rumah tangganya kepada siapa pun, termasuk orang tua dan teman dekat.

Jangan Mengumbar Masalah Rumah Tangga

Bukan hanya istri yang dituntut untuk menjaga aib suami dan rumah tangganya, seorang suami pun dituntut untuk bersikap demikian. Sebab tak ada orang yang ingin aibnya diketahui oleh orang lain.

Sudah sepatutnya sebagai suami istri untuk saling menjaga dan menutupi aib pasangannya. Saat seseorang suami atau istri membuka aib pasangannya, berarti sama saja dengan menelanjangi diri sendiri dan keluarganya.

Bila mertua sudah berlebihan, maka mau tidak mau kita harus menghadapi beliau dengan cara-cara yang baik:

Cara Menghadapi Mertua

Suami Istri Harus Kompak

Kekompakan ini dimulai dengan saling terbuka secara wajar. Sehingga ada diskusi di antara suami-istri guna mengambil keputusan bersama. Oleh sebab itu, ini pentingnya menyatukan pasangan suami-istri menyatukan prinsip satu sama lain.

Sebagai pasangan sehidup-semati, hendaknya yang satu tidak bersikap otoriter terhadap yang lainnya. Janga menetapkan keputusan sendiri lalu seolah-olah itu adalah kesepakatan bersama. Memang, ini menyebabkan komunikasi menjadi panjang, tetapi itulah yang akan membuat pernikahan menjadi lebih awet.

Bersikap Tegas Menolak Hal yang Tidak Sesuai

Tentu sikap tegas, baik mendukung maupun menolak harus didahului oleh diskusi antara suami dengan istri. Dan penyikapan sikap tegas ini, sebaiknya disampaikan oleh pasangan kita yang merupakan anak dari ayah/ibu mertua.

BACA JUGA  Kenapa Suami Harus Mendengarkan Perkataan Istri

Tidak Bawa Perasaan (Baper)

Wujud-wujud tidak baper ini di antaranya adalah memandang saran atau kritik secara objektif, tidak mudah sakit hati, serta mampu bersikap tetap baik dan sopan dalam menghadapi dan berkomunikasi dengan bapak-ibu mertua.

Menunjukkan Kemandirian

Sebagai pasangan yang memutuskan hidup bersama, dengan tanggung jawab berupa anak-anak, sudah sewajarnya pasangan suami istri menunjukkan kemandirian. Dalam arti tidak menggantungkan sumber daya kepada orang tua maupun mertua.

Lain halnya apabila keluarga menantu dan keluarga mertua bisa menyepakati sesuatu hal demi kemaslahatan bersama. Harap diingat bahwa bersama-sama belum tentu tidak mandiri. Dan mandiri tidak harus serba terpisah.

Bagaimanapun, mertua tetap wajib dihormati, sebagaimana kita menghormati orang tua kita sendiri. Karena mertua kita adalah orang tua yang membesarkan pasangan kita hingga dewasa.

Demikian ulasan dari tim Awal Cemerlang mengenai mertua yang sudah berlebihan dalam mencampuri kehidupan anak dan menantunya. Semoga bermanfaat.

1 COMMENT

  1. Baca ini tetiba saya ingat kasus yang dialami oleh beberapa teman saya. Orang tua/mertua yang selalu ingin cawe-cawe di RT anak tuh memang membahayakan. Meski maksudnya “ingin membantu” tetap aja akan menimbulkan masalah bagi anak-anaknya. Dan tidak sedikit perceraian terjadi karena kondisi seperti ini.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.