gambar ibu mengajak anaknya berbicara

Sejak lahir, si kecil akan mengeluarkan banyak suara. Ini termasuk menderu-deru, berdeguk, dan tentu saja menangis. Dan kemudian, sering kali sebelum akhir tahun pertamanya, si kecil akan mengucapkan kata pertamanya.

Entah kata pertama itu adalah “mama, “dada”, atau yang lainnya, ini adalah sebuah peristiwa penting dan menyenangkan bagi Anda. Namun seiring bertambahnya usianya, ayah-bunda mungkin bertanya-tanya bagaimana kemampuan bahasanya dibandingkan dengan anak-anak seusianya.

Lebih jelasnya, anak-anak belajar berbicara dengan kecepatan yang berbeda-beda. Jadi jika si kecil berbicara lebih lambat dibandingkan kakaknya, mungkin tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pantau saja terus. Ada keuntungannya jika memahami pencapaian standar bahasa anak pada umumnya. Sehingga bisa mengetahui titik mana pencapaian si kecil. Apakah lebih baik, rata-rata, atau ada masalah perkembangan. Beberapa balita memang memerlukan sedikit bantuan ekstra untuk belajar berbicara.

Perkembangan Bahasa dari 0-36 Bulan

Meskipun balita mengembangkan keterampilan bahasa secara bertahap, sebenarnya mereka sudah berkomunikasi sejak lahir.

0-6 Bulan

Bukan hal yang aneh jika bayi usia 0-6 bulan mengeluarkan suara menderu dan mengoceh. Dan pada usia ini, mereka bahkan sudah bisa memahami bahwa ayah bundanya sedang berbicara. Mereka sering kali menoleh ke arah suara.

Seiring dengan mereka belajar bagaimana memahami bahasa dan komunikasi, mereka menjadi lebih mudah untuk mengikuti arahan, merespons ketika nama mereka dipanggil, dan mengucapkan kata pertama mereka.

7-12 Bulan

Biasanya, bayi usia 7-12 bulan mungkin memahami kata-kata sederhana seperti “tidak”. Balita mungkin menggunakan gerak tubuh untuk berkomunikasi, dan mungkin memiliki kosakata sekitar satu hingga tiga kata, meskipun mereka mungkin baru mengucapkan kata-kata pertama setelah mereka berusia 1 tahun.

BACA JUGA  Kesalahan Gentle Parenting yang Sering Dilakukan Orang Tua dan Cara Menghindarinya

13-18 Bulan

Sekitar 13-18 bulan kosakata balita dapat berkembang hingga 10 hingga 20+ kata. Pada titik ini mereka mulai mengulang-ulang kata ayah-bunda dan orang dewasa di sekitarnya. Mereka juga dapat memahami perintah sederhana seperti “ambil sepatunya”, dan biasanya dapat mengucapkan permintaan tertentu secara verbal.

19-36 Bulan

Pada usia 19-24 bulan, kosakata balita telah berkembang menjadi 50 hingga 100 kata. Mereka mungkin bisa menyebutkan nama benda, bagian tubuh, atau nama-nama orang yang dikenal. Mereka mulai berbicara dalam frasa atau kalimat pendek.

Dan pada saat si kecil berusia 2-3 tahun, ia sudah dapat memiliki kosa kata sebanyak 250 kata atau lebih. Mereka sudah bisa bertanya, meminta barang, dan mengikuti petunjuk lebih detail.

Bagaimana Cara Mengajari Si Kecil Berbicara?

Tentu saja rentang usia di atas hanya sebagai pedoman saja. Faktanya adalah, beberapa balita mempelajari keterampilan bahasanya sedikit lebih lambat dibandingkan dengan balita lain seusianya. Ini tidak langsung berarti ada masalah.

Meskipun si kecil harus mengejar ketrampilan berbahasa, ada banyak hal yang ayah-bunda dapat lakukan untuk mendorong kemampuan bicara dan bahasa si kecil.

Baca Buku Bersama-sama

Membacakan untuk si kecil — sesering mungkin — akan mendorong perkembangan bahasa. Sebuah penelitian pada tahun 2016 menemukan bahwa anak-anak mengenal kosa kata yang lebih luas melalui pembacaan buku bergambar bersama-sama daripada mendengarkan pembicaraan orang dewasa.

Faktanya, menurut sebuah penelitian pada tahun 2019, membaca hanya satu buku setiap hari dapat membuat anak-anak terpapar 1,4 juta kata lebih banyak dibandingkan anak-anak yang tidak dibacakan di taman kanak-kanak!

Gunakan Bahasa Isyarat

Ayah-bunda tidak harus fasih berbahasa isyarat untuk mengajari anak Anda beberapa isyarat-isyarat dasar.

Banyak orang tua yang mengajari bayi dan balitanya cara memberi isyarat pada kata seperti “susu” dan “sudah selesai”. Anak kecil sering kali lebih mudah memahami bahasa isyarat dibandingkan orang dewasa. Hal ini memungkinkan mereka untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri pada usia yang jauh lebih muda.

BACA JUGA  Mengajarkan Istinja kepada Anak: Pentingnya Mengikuti Rukun Istinja secara Lengkap

Mengajak balita mengekspresikan apa yang diinginkan melalui bahasa isyarat dapat membantunya merasa lebih percaya diri dalam berkomunikasi. Rasa frustrasi yang lebih rendah juga akan membantu menciptakan lingkungan kondusif untuk belajar lebih banyak kosakata.

Gunakan Bahasa Lisan – Kalau Bisa

Hanya karena si kecil tidak dapat berbicara bukan berarti ayah-bunda tinggal diam saja. Semakin banyak ayah-bunda berbicara dan mengekspresikan diri, semakin mudah si kecil belajar bahasa di usia dini.

Jika ayah/bunda sedang melakukan sesuatu dengan mereka, misalnya mengganti popok, ceritakan apa yang Anda lakukan. Bicarakan hal lain yang terlintas mengenai mereka. Pastikan untuk menggunakan kata-kata sederhana dan kalimat pendek jika memungkinkan.

Bacakan buku untuk si kecil. Baca resepnya saat memasak berdua dengan mereka. Atau jika sedang berjalan-jalan di sekitar lingkungan, diskusikan rambu-rambu jalan yang kalian lihat bersama.

Anda bahkan dapat bernyanyi untuk si kecil — lagu pengantar tidur favoritnya.

Tidak Mengkoreksi Bahasa Bayi

Meskipun menggemaskan jika anak kecil menggunakan kata-kata yang salah atau menggunakan bahasa bayi, abaikan saja. Tidak perlu dikoreksi.

Sebutkan Nama Benda

Beberapa balita akan menunjuk suatu barang yang mereka inginkan – alih-alih memintanya. Ayah-bunda bisa berperan sebagai penerjemah yang membantu mereka memahami nama-nama benda.

Misalnya, jika si kecil menunjuk ke arah secangkir susu, tanggapi dengan mengatakan, “Susu. Apakah kamu ingin susu?” Tujuannya adalah untuk mendorong si kecil mengucapkan kata “susu”. Jadi lain kali mereka ingin minum, daripada hanya menunjuk, dorong mereka untuk mengucapkan kata yang sebenarnya.

Perpanjang Tanggapan Mereka

Cara lain untuk memperluas kosa kata si kecil adalah dengan memperluas respons mereka. Misalnya, jika si kecil melihat seekor anjing dan mengucapkan kata “anjing”, Anda dapat merespons dengan mengatakan, “Ya, itu anjing besar berwarna coklat.”

Berikan Si Kecil Pilihan

Anda juga dapat mendorong komunikasi dengan memberikan pilihan kepada si kecil. Katakanlah Anda mempunyai dua minuman berbeda dan si kecil perlu memilih teh atau susu. Ayah/bunda bisa bertanya, “Kamu mau teh, atau kamu mau susu?”

BACA JUGA  Speech Delay dan Terlambat Berbahasa pada Balita

Jika si kecil menunjuk atau memberi isyarat pada responsnya, dorong dia untuk menyebutkan nama bendanya.

Batasi Waktu Pemakaian Gawai

Sebuah studi tahun 2018 menemukan bahwa peningkatan waktu pemakaian gawai dikaitkan dengan keterlambatan bahasa pada anak usia 18 bulan. Para ahli menunjukkan bahwa interaksi dengan manusia lain – bukan menatap layar – adalah yang terbaik untuk perkembangan bahasa.

American Academy of Pediatrics (AAP) menganjurkan penggunaan waktu di depan layar tidak lebih dari 1 jam per hari untuk anak-anak berusia 2 hingga 5 tahun, dan lebih sedikit waktu untuk anak-anak yang lebih kecil.

Bagaimana Jika Si Kecil Tidak Berbicara?

Meskipun Anda melakukan berbagai upaya untuk membuat si kecil berbicara, mereka mungkin mengalami kesulitan dalam komunikasi verbal. Gejala keterlambatan bahasa bisa meliputi:

  • Tidak berbicara pada usia 2 tahun
  • Mengalami kesulitan mengikuti petunjuk
  • Kesulitan menyusun sebuah kalimat
  • Kosakata yang terbatas untuk usia mereka

Jika ayah-bunda khawatir, bicarakan dengan dokter spesialis anak. Kemungkinan penyebab keterlambatan bahasa dapat mencakup cacat intelektual atau gangguan pendengaran. Keterlambatan bahasa juga bisa menjadi tanda gangguan spektrum autisme.

Dari sekian banyak gejala tersebut, si kecil memerlukan penilaian komprehensif dari para profesional untuk mengetahui penyebab utamanya. Hal ini dapat mencakup pertemuan dengan ahli patologi wicara, psikolog anak, dan mungkin audiolog. Para profesional ini dapat mengidentifikasi masalahnya dan kemudian merekomendasikan solusinya.

Kesimpulan

Mendengarkan kata pertama si kecil adalah saat yang menyenangkan, dan seiring bertambahnya usia, ayah-bunda mungkin juga akan bersemangat jika mereka mengikuti arahan dan menyusun kalimat. Memang menyedihkan bila si kecil tidak mencapai tonggak penting seperti yang Anda harapkan.

Keterlambatan bahasa tidak selalu menunjukkan adanya masalah serius. Ingat, anak-anak mengembangkan keterampilan berbahasa dengan kecepatan yang berbeda-beda. Jika ayah-bunda khawatir akan adanya masalah mendasar, bicarakan dengan dokter spesialis anak sebagai tindakan pencegahan.

Referensi: https://www.healthline.com/health/how-to-teach-toddler-to-talk

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.