anak menonton tablet di atas meja

Melalui gadget (indonesia: gawai) seperti smartphone, laptop, komputer, tablet, dan lain sebagainya anak-anak mengalami kemudahan untuk mengakses jaringan internet di mana pun dan kapan pun (bisa 24 jam sehari). Orang tua berperan penting dalam perkembangan anak, baik usia dini maupun usia sekolah.

Salah satu upaya orang tua dalam memberikan pendidikan bagi anak dalam keluarga di era digital seperti sekarang adalah dengan memberikan pendampingan sekaligus menyaring konten dalam penggunaan teknologi bagi anak. Melalui kedua aktivitas tersebut, orang tua dapat mengawasi anak dan mengarahkan konten-konten positif bagi anak untuk menggunakan kemajuan teknologi secara tepat sesuai dengan masa tumbuh kembang anak.

Dampak Positif dari Gawai

Menambah Materi Pendidikan

Ya, seiring dengan transformasi dari materi cetak ke materi digital, maka orang tua pun membutuhkan gawai untuk menyampaikan materi digital tersebut kepada anak. Ini tidak berarti bahwa buku fisik tidak diperlukan ya. Buku fisik tetap penting untuk memberikan variasi stimulasi pada penglihatan maupun indera peraba, yaitu kulit si kecil.

Modal bagi Anak yang Lebih Besar untuk Bergaul

Selain belajar akademik di sekolah dasar, anak-anak juga berinteraksi mengenai hiburan yang sedang trending di antara mereka. Biasanya ini meliputi konten video maupun aplikasi games. Anak-anak yang aksesnya tertutup sama sekali terhadap keduanya bisa akan dikucilkan/terkucilkan dari lingkungan pertemanannya tersebut.

BACA JUGA  Masa Depan Digital: Strategi Mengoptimalkan Gawai dan Literasi Anak Prasekolah

Dampak Negatif dari Gawai

Penggunaan gadget selama 30 menit hingga 1 jam dalam sekali duduk, rupanya sudah membuat orang tua resah akan tiga dampak negatif berikut ini:

Risiko Kesehatan

Mata yang lelah maupun mata kering akibat terlalu lama fokus menatap gadget. Selain itu kurangnya relaksasi pada mata bisa menurunkan fleksibilitas otot mata. Secara fisik, memegang gadget terlalu lama bisa membentuk sedentary lifestyle, yaitu gaya hidup yang kurang aktif bergerak. Bila sedentary lifestyle diikuti dengan pola makan yang berlebihan, bisa menyebabkan obesitas pada usia yang terlalu muda. Bila penggunaan gadget tidak kenal waktu, terutama waktu tidur malam, perkembangan fisik anak akan terganggu jika kurang tidur malam. Aktivitas dengan gawai yang tidak mengenal waktu dan tempat bisa dikategorikan sebagai kecanduan.

Kecanduan

Kecanduan gadget memicu efek samping yang berbahaya pada mental seperti meningkatkan risiko depresi, gangguan kecemasan, sulit fokus, kepribadian bipolar, psikosis, dan perilaku bermasalah lainnya. Hal ini juga bisa memicu sifat agresif anak.

Kecanduan gadget bisa menyebabkan anak-anak mengalami kurang tidur. Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele, sebab kurang tidur bisa mengganggu aktivitas anak, seperti mengganggu proses belajar di sekolah yang kemudian membuat prestasinya menurun. Gangguan secara fisik tersebut juga membuat perkembangan otak menjadi tidak optimal karena tidur yang cukup adalah kunci untuk perkembangan otak yang lebih optimal.

Selain gangguan fisik akibat penyalahgunaan waktu dan tempat bergawai, konten yang tidak sesuai rekomendasi usia merupakan eksposur negatif terhadap tumbuh kembang anak.

Eksposur terhadap Konten yang Tidak Sesuai Umur

Konten digital yang tidak sesuai dengan usia anak biasanya mencakup berbagai tipe, termasuk:

Konten Kekerasan: Video, game, atau gambar yang menampilkan kekerasan fisik, emosional, atau verbal.
Konten Dewasa: Materi yang mengandung konten seksual, nudity, atau percakapan dewasa.
Konten Horor: Video atau gambar yang menakutkan, menampilkan hantu, monster, atau situasi mengerikan.
Konten Narkoba dan Alkohol: Materi yang mempromosikan penggunaan narkoba, alkohol, atau zat adiktif lainnya.
Konten Kriminalitas: Konten yang menampilkan atau mempromosikan aktivitas kriminal seperti pencurian, perampokan, atau lainnya.
Konten Bullying: Video atau gambar yang menampilkan perundungan, baik fisik maupun siber.
Bahasa Kasar atau Tidak Pantas: Materi yang menggunakan bahasa vulgar, sumpah serapah, atau hinaan.
Konten yang Misinformasi atau Berita Palsu: Informasi yang salah atau menyesatkan yang dapat mempengaruhi pemahaman dan perkembangan anak.

BACA JUGA  Ketika Si Kecil Minta "Koneksi" ke Orang Tuanya

Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh ayah-bunda maupun keluarga besar selaku support system?

Peran Orang Tua sebagai Filter Konten sekaligus Pendamping untuk Anak

Sebagai Filter Konten

Apakah anak sudah bisa melakukan penyaringan, mana konten positif atau konten negatif untuk dirinya? Tentu belum. Sehingga menjadi peran ayah-bunda, maupun orang dewasa di sekitar anak untuk melakukan penyaringan konten-konten digital mana yang baik untuk si kecil. Sudah disebutkan di atas bahwa konten-konten yang tidak sesuai umur meliputi: konten dewasa, kriminal, perundungan, dan lain sebagainya.

Sebagai Pendamping

Pada anak-anak usia dini, materi edukasi dan permainan biasanya belum ada perbedaan signifikan. Jadi, materi edukasi memang disampaikan dalam wujud permainan. Peran sebagai pendamping berarti menginterpretasikan ulang kepada anak mengenai materi yang ditonton/dikonsumsi. Maupun menjadi tempat bertanya atau anak-anak melakukan konfirmasi terhadap apa yang dilihat-didengarnya.

Sementara pada anak usia sekolah, materi edukasi digital seharusnya melengkapi materi dari sekolah. Selain itu, ada pula hiburan dari gawai di rumah biasanya berupa konten video atau aplikasi game yang keduanya merupakan topik pembicaraan anak-anak di waktu-waktu istirahat di sekolah.

Jadi dalam mendampingi anak usia sekolah berinteraksi dengan gawai, tanggung jawab ayah-bunda adalah memastikan anak-anak memiliki pandangan bahwa gadget tidak hanya untuk hiburan melainkan juga tempat menerima materi edukasi/pendidikan di samping untuk mencari informasi lewat internet.

Demikian artikel ini mengulas dampak positif dan negatif dari gawai terhadap tumbuh kembang anak.

Referensi:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.