Home Pengasuhan Menerapkan Delayed Gratification pada Pengasuhan

Menerapkan Delayed Gratification pada Pengasuhan

0
12

Kita mengawali artikel ini dengan makna “Delayed Gratification” ya, berlanjut ke bagaimana penerapan dan dampaknya dalam pengasuhan.

Makna Delayed Gratification

Delayed gratification adalah kemampuan menahan diri untuk mendapatkan kepuasan. Kemampuan seseorang untuk menunda kepuasan berkaitan dengan keterampilan serupa lainnya seperti kesabaran, kontrol impuls, kontrol diri dan kemauan, yang semuanya terlibat dalam pengaturan diri.

Delayed Gratification dalam Pengasuhan

Mengajarkan anak delayed gratification atau menunda kesenangan untuk tujuan yang lebih besar bisa memberikan banyak manfaat. Tidak terkecuali manfaat kesehatan seperti misalnya berat badan yang terkendali, gula darah maupun IMT (Indeks Massa Tubuh) lebih rendah, dan lain-lain.

Sementara itu, anak-anak yang terbiasa mendapat DENGAN SEGERA apa yang mereka minta kepada orang tua atau pengasuh yang lain bisa berubah menjadi anak yang egois dan tidak sabar.

Melansir dari A Fine Parent, selama bertahun-tahun, anak-anak yang telah “lulus” tes marshmallow mengembangkan karakteristik sebagai berikut:

  • Keterampilan mengatasi emosi yang lebih baik.
  • Tingkat pencapaian pendidikan yang lebih tinggi.
  • Memiliki Body Mass Index (BMI) lebih rendah.
  • Tingkat perceraian yang lebih rendah.
  • Tingkat kecanduan yang lebih rendah.

Delayed Gratification dalam pengasuhan bisa dipraktikkan dengan berjanji memberikan “hadiah tambahan” kepada anak bila dia berhasil menunggu atau melakukan tambahan usaha lainnya. Alih-alih mendapat hadiah saja, mereka berhasil mendapat hadiah kedua setelah melakukan “usaha “tambahan” tersebut.

Delayed Gratification vs Instant Gratification

Kepuasan instan (instant gratification) terjadi ketika kita menyerah pada keinginan kita dan mendapatkan dorongan “hormon bahagia” seperti dopamin dan endorfin. Sementara itu, kepuasan yang ditunda (delayed gratification) adalah strategi untuk mencapai tujuan besar kita dan menemukan kepuasan jangka panjang.

BACA JUGA  Bukan Pendidikan yang Mahal yang Menjadikan Anak Sukses, Tetapi Keterampilan Ini

Riset Delayed Gratification Marshmallow

Konsep delayed gratification merupakan kesimpulan suatu riset yang dilakukan oleh Walter Mischel dan tim peneliti di Universitas Stanford pada tahun 1960-an. Tes ini disebut tes Marshmallow karena dalam pelaksanaannya, satu per satu anak yang berusia 4 tahun diberikan sebuah marshmallow.

Selanjutnya, peneliti memberikan pilihan kepada anak untuk langsung mengonsumsinya, atau menahan diri selama 15 menit guna menerima tambahan marshmallow. Kalau memilih langsung memakan marshmallow tersebut, tidak ada tambahan yang akan dia terima. Jadi anak-anak harus memilih.

Beberapa anak langsung melahapnya tanpa pikir panjang, sedangkan lainnya berhasil menunggu 15 menit penuh dan menerima hadiah marshmallow kedua dari tim peneliti.

Begitu populernya riset ini hingga hasilnya digunakan dalam berbagai bidang, seperti investasi, keuangan pribadi, dan sebagainya tidak terkecuali bidang pengasuhan. Intinya adalah ada “tambahan hadiah” atas “tambahan usaha” yang dilakukan.

Referensi: klikdokter.com

NO COMMENTS

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Discover more from awalcemerlang.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading