hikmah kisah nabi ibrahim menyembelih nabi ismail

Kisah Nabi Ibrahim (ayah) dan Nabi Ismail (anak) mengandung banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil dalam kehidupan sehari-hari.

Di beberapa riwayat, disebutkan bahwa Nabi Ibrahim meminta keturunan kepada Allah SWT selama kurang lebih 86 tahun. Pada usia tersebut, Allah mengabulkan doanya dan mengaruniainya seorang putra, yaitu Nabi Ismail, melalui istrinya Hajar.

Doa Memohon Keturunan

Selama puluhan tahun tersebut, Nabi Ibrahim memohon keturunanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan doa sebagai berikut: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku (keturunan) dari orang-orang yang shaleh” sebagaimana tercantum dalam Qur’an Surat As Shoffat ayat 100.

Jangan lupa, Nabi Ismail adalah manusia mulia yang melalui kakinya terpancar mata air populer yang tidak pernah berhenti memancar sepanjang masa, yaitu mata air zam-zam di kota Mekkah.

Ketika Nabi Ismail dewasa, Allah subhanahu wa ta’ala menguji dirinya dan ayahnya, yaitu Nabi Ibrahim.

Hikmah Hari Raya Kurban

Berikut adalah beberapa hikmah utama dari kisah ‘ayah menyembelih anak’ tersebut:

  1. Keimanan dan Kepatuhan:
    • Nabi Ibrahim menunjukkan tingkat keimanan yang luar biasa kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika ia bersedia menjalankan perintah untuk menyembelih putranya, Ismail. Nabi Ismail juga rela untuk disembelih demi memenuhi perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Ini menunjukkan betapa kuat dan mendalamnya keimanan dan kepatuhan/ketakwaan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail kepada Allah.
  2. Pengorbanan:
    • Kisah ini menggambarkan pengorbanan besar yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Pengorbanan ini menjadi simbol dari kesiapan seseorang untuk mengorbankan sesuatu yang sangat dicintai demi menjalankan perintah Allah. Dalam konteks Nabi Ibrahim, sesuatu yang sangat dicintai tersebut adalah anak laki-laki sendiri yang sudah diidam-idamkan selama puluhan tahun.
    • Dalam konteks umat Islam, ini diabadikan dalam ibadah qurban pada Hari Raya Idul Adha. Bahwa bagi banyak orang, harga seekor kambing/domba atau 1/7 ekor sapi bukanlah harga yang murah atau terjangkau untuk dikurbankan.
  3. Tawakkal (Berserah diri kepada Allah):
  4. Kedua nabi tersebut juga menunjukkan rasa tawakkal atau rasa berserah diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala mengenai apa yang akan terjadi pasca penyembelihan tersebut. Alhamdulillah keduanya kemudian lulus dari ujian tersebut. Sebab Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menunjukkan sikap tawakkal yang sempurna, meyakini bahwa apapun yang terjadi adalah yang terbaik yang telah Allah tetapkan.
  5. Keluarga yang Harmonis:
    • Kisah ini juga menunjukkan betapa pentingnya dukungan dan kerjasama dalam keluarga. Siti Hajar, ibu dari Ismail, juga memiliki peran penting dalam mendukung suaminya Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail dalam melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Sering pula dikisahkan pula bahwa Nabi Ibrahim menanyakan pendapat Nabi Ismail terlebih dahulu mengenai mimpi Nabi Ibrahim tersebut. Dengan kata lain, Nabi Ibrahim bukanlah ayah otoriter yang memaksakan kehendaknya tanpa menanyakan opini putranya sendiri terhadap maksud atau rencananya itu.
  6. Kasih Sayang Allah:
    • Allah subhanahu wa ta’ala akhirnya menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba, menunjukkan bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ini mengajarkan bahwa Allah selalu memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.
BACA JUGA  Aspek Psikologis dalam Memilih Pesantren untuk Anak

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail merupakan contoh nyata dari keimanan, ketakwaan (ketakutan dan ketaatan), pengorbanan (yang berharga), kesabaran serta kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala. Ini adalah teladan yang sangat berharga bagi umat Islam untuk selalu menjalankan perintah Allah dengan ikhlas dan penuh keyakinan bahwa semua membawa hikmah yang baik.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.