gambar anak laki-laki bermain di atas meja

Penyair Pablo Neruda pernah berujar, “Seorang anak yang tidak bermain bukanlah anak-anak”.

Belakangan ini, dokter spesialis anak kini secara aktif merekomendasikan bermain sebagai komponen penting dari perkembangan otak yang sehat. Tapi bermain tidak sekedar menendang bola.

Bagi orang tua, memiliki gambaran umum tentang 6 tahapan permainan dapat membantu mengurangi stres, serta memandu ayah-bunda menuju permainan atau aktivitas yang cocok dengan usia si kecil.

Setidaknya, memiliki gambaran umum tentang 6 tahapan permainan dapat mencegah ayah-bunda kehabisan ide setelah beberapa pekan bermain cilukba (atau permainan lain) yang membosankan.

Unoccupied Play

Disebut unoccupied play karena tidak ada manusia lain selain si kecil yang bermain. Tidak ayah-bunda, orang dewasa lain, apalagi anak kecil yang lain.

Si kecil secara kreatif menggerakkan tubuhnya tanpa tujuan selain agar terasa enak dan menarik terhadap sesuatu objek.

Ini adalah jenis permainan paling dasar: si kecil benar-benar bebas berpikir, bergerak, dan berimajinasi. Ayah-bunda jangan mengatur apapun termasuk durasi memainkan permainan ini. Misalnya saya memberikan boneka berbentuk jerapah pada si kecil, lalu dia berbuat apa saja bersama boneka jerapah tersebut, maka seperti itulah unoccupied play ini.

Bahkan objek terkecil pun penuh keajaiban bagi si kecil jika dia belum pernah melihat sebelumnya. Pilih sesuatu yang memiliki banyak tekstur dan warna, dan hindari cahaya terang atau suara bising yang mengejutkan, karena dapat mengagetkan si kecil. Jadi, barang rumah tangga yang aman untuk anak sangat bisa dimainkan oleh anak di tipe permainan ini.

Independent Play atau Solitary Play

Ini adalah saat si kecil bermain sendirian, tanpa ada referensi apa pun tentang apa yang dilakukan anak-anak atau orang dewasa lainnya.

BACA JUGA  Liburan Tak Terlupakan! 7 Tempat Wisata Ramah Anak di Bandung

Sesuai namanya, di sini anak bermain dan mencari kenyamanan dengan dirinya sendiri. Jika dia aktif bergerak maka dia akan lari ke sana kemari. Jika dia tipe yang temperamennya tenang dan lebih suka membaca buku di pojok ruang yang sepi, itu terserah dia.

Bagaimanapun, tahapan ini sangat penting. Seperti yang diketahui banyak orang dewasa, Anda tidak dapat menjalin ikatan yang baik dengan orang baru jika Anda merasa tidak nyaman dengan diri sendiri. Ayah-bunda sebaiknya mendorong perilaku ini sejak dini pada anak, supaya mereka juga bisa puas dengan apa yang mereka temukan sendiri. Ini akan membuat hidup ayah-bunda terasa lebih mudah ketika anak bisa mencari kebahagiaan atau kepuasan mereka sendiri.

Lebih lanjut, anak akan bisa berinteraksi nyaman dengan orang lain, ketika mereka tahu apa yang membuat mereka merasa nyaman dengan diri mereka sendiri.

Onlooker Play

Ini adalah saat si kecil mengamati permainan anak-anak lain atau orang dewasa di sekitarnya, padahal si kecil tidak ikut bermain. Pada tahap ini, anak terlihat tidak aktif, namun ini tetap signifikan dalam perkembangannya. Kemampuan mengobservasi ini sangat penting untuk bergaul di sekolah dan seterusnya. Pada tahapan ini, si kecil mempelajari cara bagaimana bisa getting along with others.

Di rumah, ada banyak kesempatan kok untuk menunjukkan kepada si kecil bagaimana ayah-bundanya pun juga suka bermain. Berikut ini aktivitas yang direkomendasikan:

  • Tunjukkan pada si kecil apa yang ayah-bunda suka lakukan, apakah itu berkebun, memainkan alat musik, atau catur.
  • Ajak si kecil bayi ke taman setempat dan biarkan mereka menonton anak-anak lain bermain meskipun mereka tidak ingin meninggalkan ayah-bundanya. Ini adalah area tertutup yang sempurna bagi anak kecil untuk mengamati orang lain dan melihat cara mereka bermain.
  • Jika si kecil memiliki saudara kandung, dorong mereka untuk memperhatikan gerak-gerik kakaknya. Meskipun anak-anak di bawah usia 3 tahun pada umumnya belum memahami konsep berbagi mainan dengan anak-anak lain, mereka masih dapat mulai belajar bagaimana menjadi teman bermain bagi anak yang lebih besar di kemudian hari.
BACA JUGA  Sensasi Tanpa Batas! 5 Permainan Seru dengan Kertas dan Pulpen Bersama Anak

Parallel Play

Ini adalah tahap di mana si kecil “sama-sama” bermain dengan anak-anak lain, tetapi tidak bersama-sama memainkan permainan yang sama.

Belajar bermain adalah belajar bagaimana berhubungan dengan anak/orang lain. Dalam hal ini, permainan paralel adalah tahap terakhir sebelum si kecil bisa terhubung dengan anak/orang lain.

Mainan-mainan yang ideal untuk dihadirkan di tempat bermain seperti ini adalah mainan yang bisa sharing (berbagi) dengan anak-anak lain. Di periode ini anak akan berprasangka bahwa semua mainan di tempat tersebut adalah “MILIKKU, BUKAN MILIKMU”. Sebaiknya mainan-mainan di sini tahan pecah dan mudah dibersihkan.

Namun ingatlah fakta bahwa ini berarti si kecil sudah selangkah lebih dekat untuk memahami cara berhubungan dengan orang-orang di luar keluarga intinya.

Mainan/aktivitas yang direkomendasikan antara lain balok-balok (atau lego), terowongan atau panjat-panjatan rendah dengan bahan lembut (upayakan tidak selalu membeli).

Associative Play

Di sini, si kecil bermain dengan anak-anak lain, tetapi anak-anak tersebut tidak mengatur permainannya untuk mencapai tujuan bersama. Tujuannya masih bersifat individual.

Sekitar usia 3 tahun, anak prasekolah Anda akan mengalami rentang perhatian (attention span) yang lebih panjang, dan akan sangat menikmati aspek bersosialisasi dengan anak-anak lain. Meskipun permainan yang bertujuan sama masih jarang untuk anak usia ini, bermain secara bergiliran adalah tujuan perkembangan yang dapat dicapai (achieveable) – menurut para peneliti.

Cooperative Play

Di sini ayah-bunda dapat melihat awal dari kerja tim (teamwork). Si kecil akan bermain dengan anak-anak lain untuk tujuan yang sama.

Dalam kaitannya dengan tujuan bermain, ini adalah tahap perkembangan terakhir, karena prinsip dasarnya sama dengan kerja sama saat mengerjakan proyek sekolah, memainkan drama, atau berolahraga tim (sepakbola, bola basket, dll). Seorang anak yang dapat terlibat dalam permainan kooperatif dapat menangani aktivitas di dalam ruang kelas. Berinteraksi, bersosialisasi, dan berkomunikasi dengan orang lain mempengaruhi kesuksesan secara sosial dalam hidup.

BACA JUGA  6 Akun Instagram Ide Bermain Bersama Anak yang Wajib Difollow

Mainan yang direkomendasikan: teater boneka, sepak bola, dan lain-lain.

Referensi: https://www.healthline.com/health/parenting/types-of-play

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.