Konon katanya berikut ini adalah ciri-ciri pernikahan yang membawa ketenangan. Apa iya? Yuk ayah-bunda, kita bahas satu demi satu.

Mudah Tidur Ketika Berdekatan dengan Pasangan

Tentu tidak lah ya. Memang ada orang-orang yang mudah tidur. Kita menyebutnya pelor (nempel molor), begitu nempel langsung molor (tidur).

Senang kalau dapat kabar dari pasangan

Pernikahan yang baik adalah pernikahan yang menjaga keterbukaan informasi. Dan informasi tidak selalu baik. Adakalanya buruk dan membuat sedih/sengsara.

Jadi kabar dari pasangan tidak melulu membuat senang. Ada kalanya itu adalah berita buruk yang menyedihkan, namun harus disampaikan.

Selalu ingin SEGERA pulang ke rumah bertemu dengannya

Orang yang sudah menikah dan menyadari bahwa pernikahan adalah tanggung jawabnya tentu sadar untuk segera meninggalkan tempat dan pulang ke rumah begitu urusannya selesai.

Ke mana dia akan pergi? Dia akan kembali ke rumah, karena di sanalah seharusnya dia berada untuk berbagi kasih-sayang dengan pasangan dan anak-anak serta menjalankan tugas-tugas rumah tangga.

Selalu Ingin Bersentuhan Fisik

Mungkin ini salah satu dari 5 (lima) love language (bahasa kasih) ya, yaitu physical touch (sentuhan fisik). Orang-orang dengan love language kayak begini biasanya tidak ingin berjauhan – LDM (Long Distance Marriage) atau LDR (Long Distance Relationship), misalnya.

Pun begitu tiba di rumah, rasanya tidak ingin ke mana-mana lagi. Boleh ke luar, asal bersama si dia/pasangan. Bahkan ketika mengobrol selalu ingin melakukan sentuhan fisik. Boleh ke luar, asal bersama si pasangan. Dan biasanya si physical touch love language ini senang bergandengan tangan, merangkul bahu, sesekali menggigit gemas (ups!).

BACA JUGA  Level Tertinggi Seorang Istri dalam Rumah Tangga

Empat bahasa kasih yang lain adalah Words of Affirmation, Acts of Service, Quality Time, Receiving Gifts.

Kehadiranmu Selalu Ditunggu oleh Anak-Anakmu

Ini kan berarti kita adalah ayah-bunda yang baik dan anak-anak selalu menunggu kebaikan dari kita. Baik kebaikan berupa hadiah fisik yang dibawa pulang ke rumah, maupun kebaikan-kebaikan berupa sikap dan perilaku kita sendiri selaku orang tua.

Yang bahaya adalah jika anak berkata dengan senang, semisal “Yeay (ekspresi gembira) ayah/bunda dinas ke luar kota beberapa hari”. Itu bukan ekspresi gembira yang mengindikasikan hal baik ya, malah sebaliknya: tidak ada ikatan emosi dari anak kepada orang tua.

Melainkan adalah ketika emotional attachment itu tidak ada lagi, misalnya. Anak yang tidak mendapatkan atau merasakan kehadiran dan peran orang tua -terutama ayahnya- sejak dini, cenderung memiliki emosi yang tidak stabil dan punya banyak masalah dalam pergaulan saat remaja.

Pasangan dan Anak-Anakmu Menambah Ketaqwaan Kepada Tuhan

Betul bahwa kehadiran pasangan dan anak-anak akan menambah ketaqwaan kepada Tuhan. Karena mereka adalah salah satu “hadiah” terindah dari Tuhan kepada kita. Wajar jika kita semakin bersyukur dengan kehadiran mereka.

Di sisi lain, kehadiran mereka merupakan tambahan tanggung jawab kita. Di antaranya adalah sebagai jalan (wasilah) bagi rezeki mereka. Oleh sebab itu, kita perlu percaya bahwa rezeki mereka sudah ada dan tugas kita adalah “menjemput” rezeki tersebut.

Sebagai kesimpulan, di antara mitos-mitos tersebut, berarti memang ada benarnya tentang pernikahan yang menghadirkan ketenangan alias sakinah. Di mana sakinah adalah salah satu dari tiga doa yang sering diucapkan: sakinah, mawaddah, warahmah.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.