Sebuah studi yang dilakukan oleh Prof. Mikolajczak dari Université Catholique de Louvain di Belgia, menjelaskan bahwa parental burnout adalah sebuah kondisi yang timbul karena stres dan kelelahan jangka panjang, yang berujung pada perasaan berat saat mengasuh anak, bahkan merasa jauh secara emosional dengan anak.

Mommy Burnout

Burnout yang dialami ibu rumah tangga (mommy burnout, salah satu bentuk parental burnout) merupakan kondisi ketika ibu sudah sangat kelelahan dalam mengurus anak. Hal ini bisa terjadi karena tekanan yang diberikan pada ibu untuk selalu memberikan yang terbaik untuk anak.

Hal ini dapat terjadi jika ibu sudah memaksimalkan kapasitasnya untuk memberikan dukungan, baik secara fisik, mental, atau emosional kepada sang anak. Akan tetapi, ibu tidak juga merasa cukup baik sebagai orang tua.

Tidak hanya dituntut untuk mengasuh anak yang memberatkan namun juga, “tuntutan” agar rumah tetap dalam keadaan bersih dan suami tetap dalam keadaan bersih dan terawat akibat perhatian istri.

Tanda-Tanda Bunda Mengalami Parental Burnout

  • Mudah marah dan frustrasi
  • Tak lagi menemukan motivasi dalam mengasuh anak
  • Terus-menerus merasa gagal dan melabeli diri ‘bukan ibu yang baik’
  • Membatasi interaksi dengan anak
  • Kelelahan fisik dan mental
  • Rasa cemas yang berlebihan
  • Lebih sensitif dan emosional
  • Sulit tidur di malam hari
  • Lebih sering bertengkar dengan suami
  • Muncul kekerasan verbal dan fisik pada anak

Cara Mengatasi Parental Burnout

Meminta bantuan untuk mengurusi rumah tangga

Bantuan bisa berupa berbagi tugas dengan suami maupun mendelegasikan pekerjaan rumah kepada anak – sekaligus supaya anak belajar mandiri. Bantuan juga bisa berupa alat-alat rumah tangga yang lebih otomatis, misalnya mesin cuci, vacuum cleaner dan perangkat lain yang bisa bekerja sembari ditinggal. Bantuan terakhir adalah dari asisten rumah tangga (ART), baik yang menginap, maupun

BACA JUGA  7 Tips untuk Ayah-Bunda demi Kesehatan Digital Si Kecil

Kurangi Membandingkan Diri dengan Orang yang Lain

Karena situasi keluarga, ekonomi, dan sebagainya tidak pernah sama persis. Apalagi kalau sudah menyangkut “bawaan” seperti kakek-neneknya anak-anak, pendidikan luar rumah, dan lain sebagainya. Lakukan perbandingan hanya untuk meniru yang baik. Stop membandingkan kekurangan kita dengan kelebihan yang dimiliki orang lain. Rumput tetangga akan selalu lebih hijau.

Istirahat

Baik beristirahat sejenak di tengah-tengah kesibukan, maupun tidur malam jangan sampai berkurang. Baik berkurang karena tidak bisa tidur maupun mengurangi jam tidur karena aktivitas tersier seperti menonton drama korea.

Me Time Ibu Rumah Tangga pun tidak kalah wajibnya untuk dilakukan sesekali per sekian waktu. Misal, sekali seminggu atau sekali sebulan. Kembali ke kebutuhan bunda masing-masing.

Temukan teman yang mengalami kejadian serupa

Menemukan teman yang dapat memahami pengalaman bunda dan menghabiskan waktu bersama, juga efektif untuk menghilangkan rasa burnout pada bunda.

Terkadang, bunda hanya membutuhkan orang lain yang dapat berempati dengan situasi yang bunda hadapi, serta teman untuk memastikan bahwa bunda tidak sendirian.

Bicaralah dengan profesional

Memberi tahu masalah yang bunda dengan orang terpercaya akan membuat bunda merasa lebih baik. Bisa pada orang terdekat atau profesional seperti psikologi. Apalagi jika gejala burnout tersebut sudah terjadi hingga lebih dari dua minggu. Psikolog akan membantu kamu meluangkan waktu untuk diri sendiri serta terhubung (connected) kembali dengan diri sendiri.

Demikian ulasan dari tim Awal Cemerlang mengenai Parental Burnout. Semoga gejala-gejalanya segera hilang dan dapat sembuh kembali seperti sedia kala ya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.