Ada perdebatan menarik di kalangan netizen mengenai screenshot gugatan Ria Ricis kepada Teuku Ryan. Ada yang berpendapat, seharusnya cukup amar keputusan saja yang dibuka aksesnya kepada publik. Pihak satunya beropini bahwa gugatan tersebut perlu dibaca agar tidak ada lagi pihak lain yang “tertipu”.

Apapun itu, tim Awal Cemerlang melihat bahwa ada beberapa hikmah yang bisa diambil, khususnya oleh para ayah dan suami dalam menjalankan perannya di bahtera rumah tangga masing-masing.

1 Anak Laki-Laki Harus Seimbang dalam Kepada Ibu dan Istri

Dalam suatu screenshot yang beredar di kalangan netizen, tampak bahwa tergugat memilih mendahulukan ibunya daripada istrinya.

Jawaban dari Prof Quraish Shihab: “Tapi ada (saja) orang yang tidak bijak menjawab begini, istri bisa diganti tapi ibu tidak bisa. Menurut saya itu salah. Istri dan ibu bukanlah pilihan. Keduanya mempunyai peran yang berbeda, tidak perlu membanding-bandingkan, tidak perlu juga harus saklek memilih salah satu karena dua-duanya punya porsi masing-masing.”

2 Tidak Hanya Memberi Nafkah Lahir, Tetapi Juga Menyediakan Nafkah Batin

Dari tangkapan layar, banyak netizen menyimpulkan bahwa Tergugat tidak hanya alfa dalam memberikan nafkah lahir – meskipun Penggugat mungkin tidak kekurangan. Namun yang diberi highlight oleh netizen adalah kelalaiannya dalam memberikan nafkah batin – salah satunya sebagai teman ngobrol.

Syekh Wahbah al-Zuhaily dalam kitab Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu j. IX, h. 6832 menyatakan, “Bagi istri terdapat beberapa hak yang bersifat materi berupa mahar dan nafkah dan hak-hak yang bersifat non materi seperti memperbagus dalam menggauli dan hubungan yang baik serta berlaku adil.”

3 Berkomunikasi dengan Baik kepada Pasangan

Dari poin-poin yang beredar di jagat maya, dapat disimpulkan bahwa ada keengganan pihak Tergugat untuk berkomunikasi dengan pihak Penggugat. Misalnya, keengganan Tergugat untuk mengobrol dengan Penggugat dengan alasan sudah bersama-sama secara fisik di waktu dan tempat yang sama. Tidak disebutkan apa yang melatarbelakangi hal ini.

BACA JUGA  Yang Aku (Istri) Mau dari Kamu (Suami)

Namun, kita tahu bahwa manusia tidak diberikan kemampuan untuk membaca isi kepala. Oleh sebab itu, komunikasi lewat lisan, tulisan, apalagi perbuatan menjadi penting untuk dipahami oleh satu sama lain. Apalagi pada kasus suami istri yang notabene tinggal dalam satu atap, empati adalah syarat pertama untuk bisa berkomunikasi dengan baik.

4 Berusaha untuk Kompak dengan Istri dalam Pengasuhan

Penggugat dan Tergugat tampaknya tidak menemukan jalan untuk bisa kompak sebagai ayah-bunda bagi anak yang belum lama hadir ke dunia. Tidak heran ini menjadi salah satu penyebab perceraian.

Padahal, sudah sepatutnya ayah-bunda itu kompak dalam mengasuh anak. Jika orangtua tidak kompak dan tidak bisa bekerja sama dalam mengasuh anak, maka anak tidak dapat menentukan bagaimana ia harus bersikap dan kepada siapa ia harus percaya. Kerja sama orangtua ini mencakup strategi disiplin, kehangatan, serta pengasuhan dan gaya komunikasi.

Sebagai kesimpulan, sesungguhnya peran-peran yang harus dijalankan sebagai suami dan anak laki-laki tidak banyak. Cukup menjalankan poin-poin tersebut di atas, maka bahtera rumah tangga sesungguhnya bisa berjalan dengan baik di luasnya samudera kehidupan.

Referensi:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.