silaturahmi lebaran

Ketika hari raya Iedul Fitri tiba, suasana kehangatan dan kebersamaan dalam momen kumpul keluarga seringkali menjadi hal yang dinanti-nantikan bagi mayoritas umat muslim.

Namun, di tengah kebahagiaan tersebut, ada satu hal yang mungkin membuat beberapa dari kita merasa canggung atau bahkan jadi overthinking karena pertanyaan-pertanyaan yang menyebalkan dari keluarga besar.

Ada dua prinsip dalam menjawab atau menanggapi pertanyaan yang sensitif dari keluarga besar: 1. Tak perlu marah 2. Jangan dimasukkan ke dalam hati

1. Tak Perlu Marah

Alih-alih marah, Ayah-Bunda bisa alihkan pembicaraan, sampaikan keberatan atau berguyon.

a. Alihkan Pembicaraan atau Bertanya Balik

Jika seseorang memiliki kesempatan untuk bertanya atau menyampaikan pendapat, maka Ayah-Bunda juga berhak untuk memulai pembicaraan dengan topik baru.

Ya, alih-alih membiarkan orang lain membuatmu sakit hati, cobalah mengalihkan pembicaraan tanpa harus menyinggungnya.

Juga, tak ada salahnya untuk bertanya balik. Mungkin lawan bicara anda melontarkan pertanyaan tersebut karena tidak ada pembahasan yang menarik. Tentu saja, sampaikan dengan gaya bicara yang sopan agar situasi tidak menegang.

b. Sampaikan keberatan

Tak ada salahnya jika Ayah-Bunda menyampaikan keberatan dengan cara yang halus atas pembicaraan atau pertanyaan yang membuatmu tersinggung.

Ini bisa membantu lawan bicara menyetop topik yang tidak Anda sukai. Sebab, mungkin saja orang itu tidak sengaja melontarkan perkataan yang membuatmu sakit hati.

BACA JUGA  Berbagai Tradisi Lebaran di Dunia

c. Jawab dengan guyonan

Jawaban dengan humor bisa menjadi solusi masalah di tengah pertanyaan atau perkataan dari orang lain yang mungkin membuatmu merasa tersinggung.

Alih-alih marah, lelucon atau jawaban dengan gaya bercanda mungkin justru membuat situasi lebih cair.

Bagi Ayah-Bunda yang ingin menjawab dengan sederhana namun sedikit berselera humor, jawaban “sedang cari sponsor” merupakan salah satu cara yang elegan.pernikahan

Selain mengandung humor, cara ini juga bisa menyentil si penanya untuk turut berandil secara materi dalam prosesi kehamilan dan pernikahan.

Tidak menutup kemungkinan setelah jawaban tersebut, ada sanak saudara yang ingin membiayai kehamilan dan kelahiran Anda.

d. Meminta doa dan dukungan

Cara sederhana untuk tidak menjawab pertanyaan yang tidak diinginkan adalah dengan meletakkan tanggung jawab kembali pada lawan bicara. Salah satu caranya adalah dengan meminta doa dan dukungan tentang topik yang ditanyakan.

Misalnya, jika ditanya tentang rencana memiliki anak, ayah-bunda bisa mengatakan dengan jujur bahwa kalian masih menunggu waktu yang tepat atau sedang fokus pada pengembangan diri sebagai persiapan menjadi orang tua yang baik.

Dengan bersikap jujur dan meminta dukungan, kamu menunjukkan bahwa meskipun tidak memiliki jawaban yang sempurna, kamu tetap membutuhkan dan menghargai dukungan keluarga.

Misalnya, jika ditanya kapan akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, kamu bisa menjawab dengan ramah, “Semoga, tolong doakan saja ya”

Dengan demikian, kamu tidak perlu menjelaskan atau membahas detail kehidupan pribadi yang mungkin belum siap dibagikan. Meminta doa juga bisa menjadi cara untuk mempererat hubungan dan menunjukkan bahwa kamu menghargai dukungan dan perhatian mereka, tanpa harus membuka diri terlalu banyak.

e. Beri jawaban netral atau secara umum saja

Jika ada seseorang bertanya tentang topik yang Anda tidak nyaman untuk menjawabnya, tak ada salahnya untuk memberikan balasan secara umum.

BACA JUGA  Tips Persiapan Arus Balik Lebaran

Psikolog sosial, Regina Navira Pratiwi mengatakan bahwa sikap pertama yang harus dilakukan oleh penerima pertanyaan “Kapan nikah?” adalah memiliki pola pikir yang netral atas pertanyaan tersebut.

Menurut Regina, penerima pertanyaan harus menganggap bahwa “Kapan nikah?” adalah pertanyaan yang sama dengan pertanyaan lainnya. Dengan demikian, pertanyaan itu sebaiknya direspons dengan jawaban yang netral.

“Bila kita sudah paham bahwa pertanyaan tersebut adalah hal yang netral maka cobalah untuk memberikan jawaban yang juga netral dan objektif. Berilah jawaban yang bisa membuat kita berada di posisi yang aman,” ujar Regina kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (1/4/2024).

Usahakan gunakan nada bicara yang positif, karena bisa jadi itu akan membuat penanya sadar bahwa pertanyaan yang dia ucapkan tidak Anda sukai.

2. Jangan Dimasukkan ke Hati

Lidah memang tak bertulang. Terkadang orang tak memikirkan kalau apa yang keluar dari mulutnya bisa menyakiti dan menyinggung hati lawan bicara.

Agar omongan orang tak sampai membuatmu teramat sedih apalagi turun rasa percaya diri, ini yang bisa Anda terapkan:

a. Jangan ikut menyalahkan diri sendiri

Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari orang lain secara tidak langsung membuat seseorang menghakimi diri sendiri.

Pada akhirnya, kondisi tersebut menimbulkan perasaan insecure, bad mood, dan merasa tertekan. Jangan biarkan situasi tersebut justru membuat mental Anda down.

Contoh pertanyaan, “Kenapa kerja di situ? Kenapa nggak jadi PNS kayak si A?”

Terkadang keluarga memiliki ekspektasi yang berbeda soal pekerjaan. Ditambah lagi jika keluargamu yang lainnya memiliki jenjang karier yang dianggap lebih baik, kamu cenderung akan dibanding-bandingkan. Misalnya kamu bekerja di industri kreatif, keluargamu yang lain kerja sebagai PNS.

Tidak perlu minder. Begini cara menjawab pertanyaan sensitif tersebut saat Lebaran: “Iya, soalnya pekerjaan aku sekarang sesuai dengan passion aku” atau “Bagi aku pekerjaan aku sekarang memberikan pengalaman yang nggak bisa didapatkan di tempat lain.”

BACA JUGA  Tren Peralatan Baking di Tahun 2024 versi Duniamasak.com

b. Fokus pada diri sendiri saja

Jika ada banyak pertanyaan yang menurut Anda cenderung menyudutkan, jangan ambil pusing. Fokus pada kondisi diri sendiri dan abaikan pembicaraan yang bisa membuat sakit hati. Tidak semua omongan orang lain harus kamu setujui.

c. Ambil positifnya, buang negatifnya

Terkadang, apa yang disampaikan atau ditanyakan orang lain memiliki pesan atau nilai baik. Apalagi jika itu merupakan sebuah nasihat atau saran, tak ada salahnya untuk berpikiran positif dan mengambil sisi baiknya. Anggaplah hal tersebut bisa membuat diri Anda lebih baik.

Kehadiran dalam tradisi kumpul keluarga besar saat hari raya, merupakan hak Anda sepenuhnya. Apalagi kalau Anda sudah dewasa, ini menjadi keputusan pribadi yang harus dihormati.

Jika Anda sudah bisa memprediksi pertanyaan apa saja yang mungkin akan dilontarkan dan merasa sudah siap dengan segala trik menjawabanya. Tentu bukan menjadi masalah besar untuk hadir di acara tersebut.

Namun jika Anda belum siap menjawabnya atau khawatir terjebak dalam suasana yang canggung dan membuat tidak nyaman, tidak ada salahnya pertimbangkan kembali perlu tidaknya datang.

Namun perlu diingat, menjaga tali silaturhami itu penting. Bisa saja Anda hanya hadir sebentar di acara tersebut dalam waktu singkat untuk menghilangkan rasa rindu di dada kepada keluarga besar.

Referensi

9 COMMENTS

  1. Pertanyaan menggelitik saat silaturahm tiba. Kesannya basa-basi yaa.. Tapi seringnya berujung serius jadi ceramah.
    Huhuhu.. pernah juga mengalami. Tapi dasarnya aku seneng ngobrol, aku seneng-seneng aja di ceramahin, hehehe…
    Semoga lebaran kali ini menjadi lebaran yang penuh makna.

  2. Saya jadi inget puluhan tahun yang lalu saat usia saya sudah lapuk tapi belum dapat jodoh hahaha. Apalagi di zaman itu, perempuan seusia saya dulu, 30tahun, dan belum nikah tuh seperti aib dan langsung dapat gelar perawan tua. Padahal kalau sekarang usia segitu dan masih single tuh biasa aja.

    Saat itu saya gak pernah “menghindari” apa pun. Masih sering ngikutin acara kumpul keluarga karena memang tugasnya nganter ortu kesana-kemari. Saat ditanya yah dinikmati aja. Malah sering saya sahuti “makanya kenalin dong kalau ada prospek buat saya” diiringi senyam-senyum. Sakit hati? Enggak lah. Dibawa nyantai aja. Anggap aja sebagai pengingat dan karena orang tersebut perhatian sama kita.

  3. Menyiapkan mental dengan jawaban yang unik diperlukan, biar jadinya gak bikin baper pas ada pertanyaan horor ya kak hehe

  4. Menurut saya sih basa basi Lebaran ini terkait kultur
    Ucapan “kapan nikah” karena yang disapa jomblo/duda
    “Kapan punya anak” karena yang disapa adalah pasangan muda yang belum punya anak

    Dst
    Jadi, namanya juga basa-basi, cuekin aja
    Atau siapin jawaban template, toh mereka cuma basa-basi 😀

  5. nah ada beberapa tips sudah aku terapin sih nih kalo ngejawabin pertanyaan sodara2 yg padahal lah cuma ketemu setahun sekali tapi kok ya bikin sensi, kan bikin kita males ketemu mereka ya kan hahhaha

  6. Saya banget itu. Cuek aja selama tidak merugikan orang lain apapun pertanyaan saya imbangi dengan guyonan. Soal dia merasa tidak nyambung dengan jawaban saya, egp hehehe…

  7. ketika semua pertanyaan sudah saya lahap alias sudah tidak ada pertanyaan yang bisa dilontarkan ke saya, sekarang berujung ke body shamming, “ko lebar banget skrg, ko gede banget, bla bla bla”
    memang tidak ada habisnya pembiacaraan orang, jadi memang tidak usah diambil pusing ya mba

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.