Khusus kepada anak laki-laki, yang memiliki cara berpikir dan berperilaku yang berbeda dari anak perempuan, bila diberikan nasehat, perlu disampaikan dengan isi dan cara yang sesuai dengan gendernya.

Berikut ini adalah beberapa pesan dan cara menasehati anak laki-laki menurut Islam.

Mengajarkan KENAPA Harus Shalat

Selain shalat sebagai kewajiban, pondasi pemahaman harus ditanamkan sedini mungkin. Yaitu, kenapa harus shalat. Setidaknya, shalat sebagai cara kita untuk bersyukur atas segala nikmat yang kalau dihitung-hitung ternyata kita tidak sanggup beli/bayar. Konsep bersyukur ini akan bisa diterima di pikiran anak-anak jika dibarengi dengan konsep “Pencipta dan Ciptaan”. Bahwasanya kita manusia adalah ciptaan yang seharusnya bersyukur kepada Yang Maha Menciptakan. Demikian pentingnya menasehati anak laki-laki mengenai shalat.

Baca Juga: Cara Mendidik Anak yang Benar Menurut Islam

Ayah Memberikan Teladan yang Baik

Ayah, kalau sudah self-healing setelah pulang kerja, jangan lupa untuk menjalankan peran sebagai teladan di rumah. Khususnya teladan untuk dicontoh oleh anak laki-laki.

Di antara teladan yang baik adalah shalat berjamaah di masjid. Di samping mendapat keutamaan yaitu pahala 27 derajat lebih banyak, laki-laki yang shalat di masjid, baik anak-anak maupun dewasa, akan memberikan impresi positif di mata warga sekitar.

Teladan lain yang baik adalah bagaimana Ayah bersikap kepada Ibunya (nenek dari anak-anak) dan istrinya (bunda dari anak-anak). Yaitu memulikan perempuan-perempuan yang berada dalam keluarganya.

BACA JUGA  Rukun Iman dan Rukun Islam

Ayah Berdialog dengan Anak Laki-Laki

Ada 14 ayat dalam Al-Qur’an yang menguraikan interaksi antara Ayah dan anak. Sementara “hanya” ada 2 ayat yang menguraikan interaksi bunda dengan anak. Karena peran bunda dalam pendidikan anak sudah menjadi fitrah dan tidak perlu disampaikan lagi. Berikut ini 4 di antara 14 ayat tersebut:

QS Al-Baqarah ayat 132

Surah ini menceritakan percakapan antara Nabi Ibrahim AS dan anak-anaknya. Ayatnya berbunyi:

“Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”

Konteks ayat tersebut adalah bagaimana seorang Ayah mengenalkan Allah subhanahu wa ta’ala kepada anak-anaknya.

QS. Yusuf ayat 4-5

Surah ini menceritakan percakapan antara Nabi Yusuf AS dan ayahnya. Ayatnya berbunyi:

Artinya: “(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya, syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

QS. As-Saffat ayat 102

Surah ini merupakan percakapan antara Nabi Ismail AS dan Nabi Ibrahim AS. Surah inilah yang menjadi cikal bakal pelaksanaan kurban. Ayatnya berbunyi:

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Dari ayat ini, kita bisa berkesimpulan bahwasanya tidaklah mungkin Nabi Ibrahim menanyakan begitu saja hal tersebut kepada putranya, Nabi Ismail. Melainkan sudah ada keakraban dan keintiman yang berlangsung lama di antara keduanya. Seorang ayah tidak boleh otoriter tapi harus berusaha berdiskusi dengan anaknya apalagi pada hal-hal yang menyangkut masa depan anaknya.

BACA JUGA  Ketika Si Kecil Minta "Koneksi" ke Orang Tuanya

QS. Luqman ayat 13

Ayat ini menceritakan percakapan antara Luqman dengan anaknya.

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Seorang Ayah bisa menjadi pengajar bagi anak-anaknya tentang ilmu agama dan ilmu pengetahuan

Peran Ayah terhadap Anak Laki-Laki yang Tidak Bisa Digantikan oleh Bundanya

  • Pertama, sebagai Penanggung Jawab Pendidikan, dalam hal ini Ayah merupakan penanggung jawab utamam, karena dia adalah kepala keluarga. Ustadz Bendri Jaisyurrahman mengilustrasikan bahwa jika Bunda adalah gurunya, maka Ayah adalah kepala sekolahnya.
  • Kedua, sebagai Penyuplai Maskulinitas, maksudnya adalah Ayah yang mengajarkan keberanian, tangguh, dan suka tantangan.
  • Ketiga, sebagai Pembangun Sistem berpikir, Ayah memiliki kemampuan logika berpikir yang lebih baik dibandingkan Bunda (Adriano Rusfi, 2018).

Penutup

Demikian tulisan ini agar menjadi contoh dan pelajaran bagi para Ayah dan Bunda dalam memperhatikan, mendidik, berinteraksi, dan menasehati anak laki-laki.

Awal Cemerlang adalah platform yang berfokus pada topik parenting & pengasuhan anak usia 2-7 tahun. Kami berharap bisa membantu para ayah-bunda dalam pengasuhan agar si kecil bisa merasakan masa-masa “awal” yang benar-benar “cemerlang”. Lewat website awalcemerlang.com dan social media, kami berbagi tips, cerita, dan info seru lainnya. Follow social media kami di IG @awalcemerlang dan Tiktok @awalcemerlang 😊 Gabung juga di WAG Komunitas Awal Cemerlang.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.