Membangun disiplin positif (versi wikipedia) adalah pendekatan untuk membangun kedisiplinan tanpa hukuman dan hadiah. Jadi diharapkan kedisiplinan terbangun dari kesadaran sendiri. Disiplin model ini akan lebih awet dalam jangka panjang karena motivasinya berasal dari dalam pribadi.

Berbeda dengan pendisiplinan metode “stick and carrot”, yaitu di mana “carrot” sebagai hadiah apabila melaksanakan dengan baik, dan “stick” alias hukuman fisik bila terjadi pelanggaran. Metode ini instant membangun disiplin, namun bila tidak ada stick and carrot-nya maka disiplinnya akan hilang secara cepat juga.

Penegakan disiplin ala pengasuhan positif (positive parenting) membuat anak tetap tumbuh fisik dan psikisnya secara sehat.

Manfaat Penerapan Disiplin Positif

  • Dapat menumbuhkan kepercayaan diri anak. Ingat, kepercayaan diri tumbuh ketika anak dihargai keberadaannya.
  • Dapat mendukung kemandirian anak dan rasa bertanggung jawab atas dirinya. Yang kita kehendaki di masa datang adalah orang dewasa yang mandiri dan bertanggung jawab.
  • Dapat mendukung lingkungan yang lebih baik dalam keluarga. Di masa depan, anak akan turut menjadi bagian dari lingkungan kondusif jika sejak dini ditangani secara positif.

5 Langkah Membangun Disiplin Positif

  1. Buat aturan dan kesepakatan bersama yang berlaku untuk semua anggota keluarga.
  2. Aturan dibuat singkat, mudah dimengerti, dan diingat oleh semua anggota keluarga.
  3. Aturan dibuat tertulis dan ditempelkan pada dinding yang dapat dilihat oleh semua anggota keluarga.
  4. Setelah beberapa waktu, lihat bersama apakah ada kesepakatan yang perlu diganti atau diperbaiki.
  5. Laksanakan kesepakatan secara terus-menerus dan terapkan aturan yang tepat saat ada pelanggaran.
BACA JUGA  Dengan Pengasuhan Positif, Anak Tumbuh Sehat dan Bahagia

Ortu Harus Tahu Ini Sebelum Menerapkan Disiplin Positif

Prinsip disiplin positif adalah tegas sekaligus berkasih sayang pada saat yang bersamaan. Orang tua yang belum bisa melakukan keduanya, belum akan bisa mendisiplinkan anak. Tentu ini tidak mudah. Namun, kita sebagai orang tua bisa belajar terus, terutama mengenai ciri khas dan kebutuhan anak.

Kenali Ciri Khas Anak

Disiplin untuk anak usia balita berbeda dengan anak yang usianya lebih besar. Selain itu, anak terlahir dengan sifatnya masing-masing. Misalnya, ada yang mudah berkenalan dengan orang baru dan ada yang lambat mengenal orang lain.

Pahami Kebutuhan Anak

Berkasih sayang pada anak dimulai dari empati. Dengan empati kita pelan-pelan bisa mempelajari dan menilai kebutuhan si kecil. Hal tersebut akan membantu kita mengetahui apa yang sedang dialami oleh si kecil.

Contohnya adalah, anak yang berperilaku buruk bukan berarti nakal. Bisa jadi si kecil sedang membutuhkan sesuatu yang belum bisa ia sampaikan secara verbal. Karena dia merasa belum dipahami, kemudian dia menunjukkan perilaku yang kita nilai sebagai ‘buruk’. Padahal sesungguhnya tidak demikian yang dia inginkan.

Setiap anak memiliki kebutuhan dasar (makan, minum, tidur, main) yang perlu dipenuhi. Dan ini bisa jadi berbeda-beda. Ada anak yang kuat makan, ada anak yang tidurnya panjang, dll. Misalnya: Anak yang sedang kelelahan, mengantuk, dan lapar akan sulit mengikuti aturan dan mematuhi kesepakatan.

Hindari Memberikan Iming-Iming

Hindari memberikan iming-iming hanya agar anak mau berperilaku baik. Misalnya: menjelaskan pada anak bahwa mandi akan membuat dirinya nyaman, bukan karena akan mendapatkan hadiah setelah mandi. Iming-iming adalah pendekatan stick and carrot. Hilang carrot-nya, maka hilang pula disiplinnya.

BACA JUGA  Membangun Demokrasi Sejak Dini Melalui Pendidikan dalam Keluarga

Dampingi Anak (Juga) di Saat Sulit

Mendampingi anak tidak hanya pada saat sukses, tetapi juga pada saat sulit. Misalnya: saat anak kalah dalam perlombaan, jangan disalahkan, tetapi berilah semangat.

Tantangan dan Hambatan dalam Penerapan Disiplin Positif

Pengalaman Masa Lalu Ayah-Bunda

Pengalaman ayah-bunda saat menjadi anak akan memengaruhi cara menerapkan disiplin pada anak saat ini. Banyak pengalaman yang dapat diterapkan pada anak kita, tetapi ada juga pengalaman yang tidak perlu diulang.

Emosi Orang Tua

Saat menerapkan disiplin, ada berbagai emosi yang dirasakan oleh ayah-bunda. Hal tersebut sangat wajar dialami, tetapi perlu dikendalikan dengan baik.

Penting untuk Dilakukan

  • Menunjukkan sikap tegas dan konsisten sekaligus menunjukkan kasih sayang. Ini adalah inti ajaran disiplin positif.
  • Memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar dari kesalahan. Pondasinya adalah dengan meyakini bahwa anak bisa berubah menjadi lebih baik.
  • Melakukan komunikasi yang baik dan menghargai anak. Dari sini, kepercayaan diri si anak bisa tumbuh.

Penting untuk Dihindari

  • Menunjukkan sikap keras sehingga anak merasa takut dan rendah diri atau menunjukkan sikap lembut sehingga anak menjadi manja
  • Melakukan kekerasan fisik kepada anak ketika melakukan kesalahan
  • Menciptakan hubungan yang tidak menyenangkan dalam keluarga, misalnya memarahi atau menyindir

Saat Anak Melakukan Kesalahan

Terapkan Konsekuensi yang Berhubungan dengan Kesalahan

Contoh: Meminta kakak berusaha memperbaiki mainan adik yang dirusaknya, bukan mengurung si kakak di sebuah ruangan.

Terapkan Disiplin yang Masuk Akal Sesuai dengan Usia Anak

Contoh: Air yang ditumpahkan adik, dibersihkan oleh adik sendiri sesuai dengan kemampuannya.

Tidak Melakukan Kekerasan Fisik maupun Verbal

Contoh: tidak menjewer anak, tidak mempermalukan anak di hadapan keluarga atau teman-teman dengan menceritakan kesalahannya

BACA JUGA  Mengenalkan Anak Menutup Aurat Sejak Dini

Ajarkan dan Solusikan Masalahnya

Ingat kembali usia anak kita. Lihat kembali referensi tumbuh-kembang anak. Perhatikan -bukan membandingkan- dengan anak-anak seusianya. Lalu, ajarkan apa yang bisa si kecil lakukan di usia tersebut.

Misal, kepada si kecil yang sudah bisa melempar, kemudian malah melempar bola tak tentu arah di dalam rumah. Maka bunda bisa katakan, “Bunda tidak mengizinkan kamu melempar di dalam rumah. Tapi kamu bisa melempar bola tersebut di halaman”.

Contoh lain. Kepada si kecil yang sudah paham dan mempraktikkan pemukulan, Ayah bisa berkata, “Ayah tidak membolehkanmu memukul, tapi kalau kamu merasa marah, kamu bisa melampiaskannya dengan melompat-lompat”.

Dari dua contoh di atas, kita bisa melihat bahwa ajaran/aturan-nya adalah bunda tidak mengizinkan kamu melempar di dalam rumah dan ayah tidak membolehkan memukul. Serta solusi yang disediakan adalah kamu bisa melempar bola di halaman dan kamu bisa melampiaskan amarah dengan melompat-lompat.

Baca Juga: Cara Mengenali Emosi dan Mendidik Disiplin pada Anak Balita.

Demikian hal-hal yang wajib diketahui tentang menegakkan disiplin positif: 1) manfaat disiplin positif, 2) langkah-langkah menegakkan disiplin positif, 3) hal-hal ayah-bunda wajib tahu sebelumnya, serta 4) bagaimana menanggapi kesalahan anak.

Awal Cemerlang adalah platform yang berfokus pada topik parenting & pengasuhan anak usia 2-7 tahun. Kami berharap bisa membantu para ayah-bunda dalam pengasuhan agar si kecil bisa merasakan masa-masa “awal” yang benar-benar “cemerlang”. Lewat website awalcemerlang.com dan social media, kami berbagi tips, cerita, dan info seru lainnya. Follow social media kami di IG @awalcemerlang dan Tiktok @awalcemerlang 😊 Gabung juga di WAG Komunitas Awal Cemerlang.

16 COMMENTS

  1. Saya setuju sekali 3 poin di atas. Anak itu jangan langsung dicap nakal. Padahal dia hanya ingin sekadar menyampaikan sesuatu. terus orang tua harus tenang dulu, kalau sudah emosi dan sampai berteriak, maka anak akan teriak juga. terakhir, setiap masalah anak, ada solusinya. Jadi ajarkan solusinya sesuai cara anak-anak juga.

  2. Menurut teori belajar peaget, ada dimana anak2 cerdas sesuai dengan perkembangannya. Anak2 selama ini memang adalah tipe pencontoh. Jadi sebagai orang tua yang punya anak prasekolah, maka tanamkan akhlak dengan contoh2 kebaikan setiap harinya. Orang tua yang mengajarkan kedisiplinan sejak anak usia dini, maka kelak akan jadi bekal hidupnya.

    Tulisannya sudah kubaca, sangat edukatif dan semoga bermanfaat untuk pembaca lainnya.

  3. Tiga poin yang makjleb banget ini sih. Tapi kalau saya pribadi akan meletakkan poin ke-2 menjadi point utama karena dalam menghadapi sesuatu, apapun itu, terutama perkara berat yang butuh pertimbangan matang untuk anak, keseimbangan emosi orang tua harus lebih dulu ditangani. Tujuannya tentu saja agar orang tua dapat berpikir jernih dan bisa mengambil keputusan yang tepat. Baik untuk si anak maupun untuk orang tua.

  4. Setuju banget nih sama tipsnya. Parenting memang luas dan dinamis. Ortu harus rajin-rajin belajar tips seperti ini y, biar upaya mendisiplinkan anak bisa dilakukan dengan tepat.

  5. Boleh juga ini diterapkan ke keponakan daku yang paling kecil karena usianya pas, belum masuk sekolah. Jadi bisa mulai belajar mendisiplinkan diri

  6. Belajar banget komunikasi produktif dengan anak zaman sekarang.
    Biasanya kalau anak perempuan, aku menjelaskannya agak panjang. Sehingga anak-anak paham bahwa ada sebab-akibat dan mari kita cari solusi yang baik untuk tetap mendukung apa yang anak-anak butuhkan sesuai dengan tumbuh kembangnya.

  7. Setuju dengan poin2nya. Sikap disiplin menjadi salah satu bentuk perilaku positif yang perlu diajarkan ke anak sejak dini, sebab hal ini akan bisa bantu keberhasilan anak di masa depan. Penerapan disiplin yang konsisten akan sangat membantu dalam pembentukan karakter seorang anak

  8. Reminder banget sih ini :’) Lebih-lebih bagian orangtua harus bisa menenangkan diri terlebih dahulu sebelum menenangkan anak. Jangan sampai lepas kendali malah ikut ‘ngreog’ ke anak 😀

  9. Bener banget, ortu juga perlu menenangkan diri dulu, baru menenangkan anak. Kalau sama -sama tenang bisa mencari solusi dengan baik. Jangan sampai emosi kalau ngadepin anak.

  10. Orangtua harus tenang, memang iya, kalau batin orangtua tenang dan sabar, anak cepat banget luluh nurut, tapi kalau ortu gak sabaran, duh emosinya nular banget ke anak. Tapi jangan sampai lengah sih, tetep anak harus dikasih tau, biar gak tantrum terus didiemin

  11. Terkadang memang sebelum anak2 diajari, yg pertama hal yg harus diajari adalah orang tuanya dulu. Orang tua yang punya bekal ilmu yang tepat sebelum mengajarkan anak apapun, membuat proses parenting lebih mudah. Jadi bukan orang tuanya dulu yg lebih banyak perubahan dr anak, namun orang tua juga harus berubah lebih dulu.

  12. Sampai sekarang saya masih terus belajar untuk memperhatikan, bukan membandingkan antara anak-anak saya, ataupun antara anak saya dengan anak orang lain. Dan ini susah banget, apalagi kalau emosi jeleknya lagi naik, jadi menenangkan diri dulu bagi ortu sebelum menenangkan anak, ini emang bener banget

  13. Yap aku setuju banget apa yang ditulis kakak. Ortu harus tenang dulu baru tenangkan anak..Juga mesti menawarkan solusi ya kak terhadap permasalahan anak🥰

  14. Setuju banget bahwa orangtua harus menenangkan diri dulu sebelum menenangkan anak, karena anak bisa ikut merasakan emosi orangtuanya, seperti duo anak kembarku kak. Anak tantrum yang diemong orangtua cranky, niscaya akan semakin rewel wkwkwk.

    Setuju juga dengan poin ketiga. Di Jawa, kita diajarkan untuk memendam dan berhenti sebelum waktunya, padahal pelampiasan emosi itu perlu. Emosi yang tidak tersalurkan hanya akan menumpuk menjadi penyakit.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.